Sosok Pendiri YPI Dahlan As Syafi’i

7 12 2012

ali munasirKH Munasir Ali Almarhum

” Guruku dan Penuntunku “

    KH Munasir Ali lahir pada tahun 1919 dan meninggal pada 11 Januari 2002 dalam usia 83 tahun di RS Pelni Petamburan Jakarta. Berikut ini paparan KH Muchit Muzadi saat mengikuti acara tersebut.

Pertama kali saya bertemu Pak Sir, panggilan akrab KH Munasir Ali, pada tahun 1950-an, ketika beliau menjabat Komandan Batalyon TNI Condromowo. Kepala staffnya, Bapak Hasyim Latif, sedang Komandan-komandan Kompinya : Pak Yusuf Hasyim, Pak Muhammad Baidlowi, Pak Syakir dan Pak Pur. Kemudian, lama sekali tidak bertemu. Baru pada tahun 1960-an, bertemu lagi di Jakarta ketika beliau menjabat anggota Dewan Nasional (era orde lama) sekaligus menjadi tokoh Pengurus Besar NU, Pertanu, kemudian Sekretaris Jenderal PBNU.

               Saya sendiri memang berdomisili di Tuban, sebelum pindah ke Jogja, ke Malang, kemudian ke Jember. Sejak saya bertempat di Malang (1962-1966) dan di Jember (1966 – sampai sekarang), saya lebih sering bertemu dengan beliau dalam berbagai pertemuan yang beliau pelopori. Peran beliau yang paling menonjol adalah ketika beliau menjadi Ketua Panitia Muktamar ke-29 NU di Cipasung, Tasikmalaya Jawa Barat, dimana penguasa Orde Baru berusaha menghancurkan NU dengan cara memaksakan masuknya tokoh yang mau mengikuti kehendak penguasa dan membelokkan NU dari garis cita-citanya semula.

               Memang NU adalah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan organisasi yang terbanyak warganya di dunia. Tidak ada organisasi lain di dunia ini yang warganya lebih besar dari NU. Oleh karena itu, NU selalu menarik berbagai pihak untuk “menguasai”nya. Pemerintah Indonesia yang manapun selalu berusaha dekat dengan NU, melalui bermacam cara, ancaman, rayuan atau apapun namanya. Dalam berbagai pertemuan dengan beliau, saya merasa mendapat petunjuk dan keteladanan yang sangat berharga.

               Pada saat kampanye pemilu 1955, Pak Munasir sudah pensiun dari TNI dan menjadi juru kampanye Partai NU. Pada kampanye di Jatirogo, daerah Tuban, Pak Munasir hadir bersama almarhum Pak Hamid Widjaya. Pak Munasir bercerita tentang angin besar dan angin kecil (yang sumilir). Keduanya ingin menjatuhkan seseorang yang sedang berada di atas sebatang pohon besar. Angin besar mengandalkan kebesarannya, menggoyang pohon supaya orang tersebut jatuh. Tetapi makin keras goyangan angin, makin erat dan kuat orang itu berpegang pada pohon. Kini, giliran angin kecil bekerja. Dengan sepoi-sepoi basah (sumilir), angin kecil berhembus lembut sehingga orang tersebut mengantuk dan akhirnya, dia terjatuh. Cerita ini sesuai dengan strategi dan taktik kampanye Partai NU pada masa itu. Mengimbangi sikap keras dan kasar Masyumi dan PKI, NU mengandalkan cara lemah lembut dan ternyata berhasil. Pada masa itu, belum ada ancaman dan intimidasi. Tidak ada rayuan, iming-iming uang dan sembako.

                Ketika pada tahun 1980-an, NU mengalami krisis kepemimpinan. Beberapa tokoh muda NU berkumpul di Hotel Hasta Jakarta. Di antara 24 orang yang hadir, yang sudah tidak muda lagi hanyalah Pak Munasir dan saya. Majelis 24 itu ikut berperan dalam mewujudkan rumusan Khittah NU yang fenomenal tersebut. Sayang, Khittah NU yang dirumuskan untuk kepentingan NU, seringkali dipergunakan (tepatnya, disalahgunakan) untuk membelenggu NU. Sedikit-sedikit, orang berteriak : “Itu melanggar Khittah”.

               Dari sekian banyak petunjuk dan keteladanan Pak Munasir, ada satu yang sangat berkesan di hati saya: selalu saya kembangkan dan saya sampaikan pada teman-teman, saya sebarluaskan. Yaitu kata beliau yang sangat sederhana bunyinya, tetapi sangat luas dan mendalam artinya. “Chith, biyen iku wong melu NU, niate ndandakno awak”. Ndadak-no awak atau ndandani awak”, arti lafdhiyahnya “mereparasikan din” atau “mereparasi diri”, memperbaiki diri, oleh diri sendiri atau melalui pertolongan orang lain. Dengan bahasa sekarang, lebih tepat diartikan sebagai “meningkatkan kualitas diri”. Pada hakekatnya, seluruh hidup dan kehidupan ini, harus diisi dengan usaha meningkatkan kualitas diri. ( 20/10/2004 Oleh: Abdul Muchith Muzadi)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: